30 September 2009

Resiko dalam dunia IT


Resiko merupakan hal yang harus selalu dihadapi dalam suatu kegiatan, terlepas dari seberapa besar kecilnya dampak atau kerugiannya. Begitu pula dalam hal pelaksanaan kegiatan teknologi informasi (IT). Pekerjaan dalam dunia IT memiliki resikonya tersendiri. Resiko yang akan dihadapi meliputi beberapa hal, antara lain kerugian dari segi biaya. Kerugian disini bisa disebabkan oleh ketidaktepatan alokasi dana, keterbatasan pengetahuan atau berbagai masalah pada ruang lingkup pelaksanaan proyek.

Proyek dalam dunia IT tentunya memerlukan alat pelaksana baik itu berupa software, brainware and hardware. Dari ketiga unsur tersebut, hardware dan brainware lah yang mengandung resiko kerugian biaya yang besar. Hal ini disebabkan biaya pengadaan keduanya yang cenderung besar dan sulit ditekan –setidaknya biaya software dapat ditekan melalui penggunaan freeware namun jarang ada brainware yang mau bekerja cuma-cuma- Sering kali hardware yang digunakan terlalu belebihan (mungkin karena keterbatasan pengetahuan), contohnya saja membeli unit komputer dengan Radeon 4870 untuk melakukan pengolahan data yang walaupun jumlahnya banyak tapi tetap sederhana. Teori yang masih dianggap selalu benar, “mahal pasti lebih awet” penyebabnya. Memperkirakan jangka pakai suatu perangkat berdasarkan harganya masih sering dijumpai, tanpa mempedulikan faktor lain. Tingginya harga suatu perangkat tidak hanya dikarenakan oleh faktor endurance tapi juga bisa oleh perfomance-nya yang tinggi (namun endurance standar). Akibatnya bukan barang super awet yang didapat tapi produk berkinerja tinggi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Perangkat tidak mendapat perawatan yang semestinya dan memperpendek usianya. Dan hal ini terjadi bisa karena salah manajemen dan pelaksanaan. Begitu juga dengan biaya untuk si brainware. Ketidak sebandingan antara bayaran dan perfoma kerja yang dihasilkan adalah resiko dalam penyewaan jasa seseorang yang tidak diketahui tingkat kemampuannya. Akibatnya, hasil tidak maksimal atau bahkan proyek tidak terselesaikan. Alasan untuk meng-hire orang tersebut bisa jadi dari mendesaknya waktu pelaksanaan proyek atau hubungan relasi yang telah ada sebelumnya. Dari bagian software, sebagian menganggap properti ini yang bebas dari resiko. Sebenarnya properti ini memiliki resikonya tersendiri, ambil saja contoh ketersediaan dukungan. Memakai suatu software yang memiliki dukungan (support) terbatas sebagai alat pengembangan juga beresiko. Pengembang dalam proyek perlu memperhatikan hal ini, jangan sampai perangkat yang dikembangkan –yang berlaku untuk jangka yang lama- tidak panjang umur karena hilangnya dukungan dari piranti lunak yang digunakan. Solusinya pengembang dapat memilih development software yang “aman” dan terjamin ketersediaanya namun tetap sesuai dengan kemampuan.

No comments:

Post a Comment